Konsep Gusurnya Agus Yudhoyono, Bisakah?

Bagi Agus-Sylviana Tidak Ada Kata Gusur Menggusur dalam Membangun Jakarta

Permasalahan kota besar seperti Jakarta, salah satunya adalah permukiman penduduk yang liar dan kumuh yang dibangun di bantaran sungai, atau dilokasi lainnya yang tak semestinya. Ini adalah sebuah persoalan yang menjadi pekerjaan rumah setiap Gubernur DKI Jakarta. Kerap untuk menertibkan bangunan bangunan tersebut, harus dilakukan dengan menggusur. Tentu pihak tergusur tak sedikit yang melakukan perlawanan. Melihat hal ini, pasangan Agus dan Sylviana yang diusung oleh parpol Demokrat, PKB, PAN, serta PPP, dalam pilkada DKI tahun 2017 menjanjikan bahwa DKI Jakarta bebas gusur menggusur.

Janji membenahi Jakarta tanpa menggusur, yang ia lemparkan sebagai program jika ia menjabat Gubernur DKI nantinya, banyak menimbulkan beragam tanggapan yang meragukan hal tersebut dapat terwujud. Apakah ini hanya sekedar janji palsu atau memang sudah dipikirkan matang-matang oleh Dia bersama timnya.

Kami sendiri juga meragukan program tersebut. Sehingga tulisan ini tersaji sebagai ungkapan uneg uneg atas konsep pasangan nomor urut satu ini.

konsep membangun tanpa menggusur

Berkali kali dalam banyak kesempatan Agus Yudhoyono menyampaikan ke publik, bahwa jika ia terpilih nantinya, ia tidak akan menggusur. Konsepnya dikenal dengan ‘ membangun tanpa menggusur’. Bisakah membangun tanpa menggusur? Bisa ya bisa juga tidak.

Jika persoalaan pemukiman liar hanya beberapa titik, tentu konsep membangun tanpa menggusur dapat diterapkan. Tapi ini Jakarta, Bung..berpuluh puluh tahun mereka yang tinggal di lokasi yang sebenarnya adalah tanah milik negara secara turun temurun. Jumlahnya pun bukan ratusan kepala keluarga, tapi ribuan dengan lokasi menyebar di DKI Jakarta. Bisa jadi mereka yang mendiami tempat yang bukan haknya, tidak tau asal usulnya. Mereka mendapat rumah tersebut sebagai warisan dari orang tuanya.

Maka tentu jika mereka tiba tiba diminta untuk pindah dari lokasi tersebut mereka akan melawan. Dan ini adalah cerita yang biasa terjadi saat proses penggusuran.

Gusur dan menggusur di ibu kota Jakarta, merupakan berita rutin. Tidak hanya saat gubernur Ahok saja, gusur menggusur terjadi. Gubernur sebelumnya Fouzi Bowo pun kerap dituding negatif karena sering melakukan penggusuran terhadap warga. Bagaimana gubernur sebelumnya, Sutiyoso, juga melakukan penggusuran. Jika kita simpulkan tidak ada gubernur Jakarta yang tidak menggusur, khususnya setelah era reformasi. Pertanyaannya mengapa mereka melakukan penggusuran? Jawabannya sederhana, karena lahan yang ditempati bukan lahan milik yang sah.

Sepertinya calon gubernur Agus tidak akan mengikuti jejak jejak pendahulunya. Ia lantang menyuarakan konsepnya” membangun tanpa menggusur”. Dan istilah yang ia sampaikan adalah ‘menggeser’. Menggeser rumah, menggeser gedung yang berada pada tempat yang tak selayaknya.
Tapi ini pun menjadi pertanyaan menggeser kemana? Jika satu dua rumah menggeser tidak jadi soal. Tapi nanti yang akan dihadapi adalah ribuan rumah. Saya yang kurang pintar atau barangkali terlalu bodoh tidak dapat menerima konsep dari Mr. Agus ini.

Mungkinkah terlaksana? Hanya Agus yang dapat melaksanakannya, dan membuktikan, seperti yang ia sampaikan. Agus mengatakan konsep itu bisa diwujudkan, bukan mengada ada. Ia bilang konsep tersebut sangat sederhana. Namun anehnya, Sutiyoso, Fauzi Bowo, Jokowi dan Ahok saat menjabat sebagai orang nomor satu di DKI, tidak menggunakan konsep yang sederhana tersebut, bahkan mereka lebih suka dengan konsep yang membuang buang waktu, energi, maupun uang, yaitu menggusur?

Dalam sebuah debat yang diselenggaralan KPU dan disiarkan televiai, Agus Harimurti, mempertegas konsep tersebut, yaitu tidak menggusur, hanya memindahkan rumah rumah yang berada di bantaran kali untuk bergeser menjauh. Jauhnya tidak jauh jauh dari situ, tempat tinggal semula. Tapi jika dipindah terlalu jauh, ya sama saja dengan program yang sudah dijalankan gubernur DKI sebelum sebelumnya.

Ini rumah di bantaran kali. Bagaimana jika bangunan bangunan terebut berada di pinggir jalan raya. Dan sebelahnya merupakan permukiman penduduk yang memiliki ijin? Konsepnya digeser, maka bangunan tersebut akan digeser menempati ruas jalan raya? Tambah macett dong…Karena jika digeser ke belakang, repot juga karena ada pemukiman penduduk yang legal. Ini misalnya. Sekali lagi , jika dipikir, konsepnya susah untuk di jalankan. Ingat konsepnya adalah ” membangun tanpa menggusur”.

Konsep sehebat apapun, jika tidak bisa dibuktikan adalah sama dengan nol besar.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia arti menggusur adalah menjadikan pindah tempat. Pengertiannya hampir sama dengan kata Relokasi, yang artinya memindahkan tempat. Hanya kedua kata berbeda nilai rasa. Jika kata menggusur itu konotasinya jelek, dipaksa, tanpa ganti rugi atau kata-kata negatif lainnya. Menggusur juga disinonimkan dengan kata membongkar. Sedangkan kata relokasi memiliki makna yang baik, jauh dari paksaan, jauh dari demo demoan saat buldoser menerjang bangunan.

Menggusur artinya membongkar dengan konotasi secara paksa Sedangkan Relokasi bermakna menata kembali. Mengatur ulang, yang bisa saja dengan cara menggusur.

Tapi mau dengan kata relokasi atau menggusur. Masyarakat pada umumnya tidak memperdulikan kata kata tersebut. Intinya rumah mereka yang ada di bantaran kali, tempat usaha mereka yang ada di bibir rel kereta api, tidak di runtuhkan oleh buldoser. Mereka harus tetap tinggal di sana, sampai kapanpun. Walaupun itu tanah bukan miliknya. Itu tanah milik negara. Atau tanah kosong yang bertuan, tapi dibiarkan merana. Mereka rela direlokasi atau digusur dengan syarat ganti untung, jika tidak ramai ramai menghadang satpol PP.

Agus Yudhoyono pun menegaskan bahwa pembangunan Jakarta tanpa melakukan penggusuran merupakan perbedaan visi dan misinya dibandingkan pemerintahan yang berkuasa sekarang. Tapi ngapain juga mikir-mikir hal itu?, Emangnya saya akan dipilih jadi gubernur DKI Jakarta, susah susah memikirkan itu semua” membangun tanpa menggusur” . Biarlah lulusan terbaik dan peraih Garuda Trisakti Tarunatama Emas saat di SMA Taruna Nusantara ini yang akan membuktikannya. Ia berjanji konsep yang disebut sederhana ini dapat dibuktikan. ” membangun tanpa menggusur”.

Anak pertama mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertekad mewujudkan itu konsep, membangun tanpa menggusur jika ia terpilih menjadi gubernur DKI. Jika tidak terpilih ia akan simpan konsep yang Sutiyoso, Fauzi Bowo, Jokowi dan Ahok tak sanggup melakukannya.

Dalam sebuah kunjungan warga perwira TNI yang harus pensiun demi menjadi orang nomor satu di DKI ini menyampaikan “Kalau sukanya menggusur tak usah jadi pemimpin. Apalagi tidak memberikan solusi, hanya menambah kesengsaraan warga,” kata Agus di depan ratusan warga.

Akhir dikata :
Malang nian nasib bangsa ini, yang orang orang pintarnya akan mewujudkan konsep luar biasa hebat dan memberikan solusi hanya jika menjadi bupati, gubernur, atau presiden !!!

, ,

Post navigation