Pak Bagus Yang Menginspirasi

Tulisan ini Bagus…bagus dari isinya. Tulisan ini berupa cerita yang isinya menginspirasi.

Inspirasinya adalah cara berprasangka baik. Ternyata berprasangka baik itu mudah dilkukan, dan efek cepatnya berprasangka baik tidak membuat hati dongkol, sesak, berkeluh kesah yang akibatnya pusing kepala, memikirkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya.

Pelaku utamanya Pak Bagus namanya. Di panggil Pak Bagus juga.

Beliau berprofesi sebagai seorang guru yang sangat disiplin, jujur, sederhana, ceria, dan menyenangkan. Ia bukan guru super pinter, bukan pula guru penyandang gelar berderet. Namun, ia selalu ditunggu anak didiknya. Cara ia mengajar, membimbing, memberi arahan menjadi hal yang dirindukan siswanya.

Siapapun yang berada di dekatnya merasa gembira ria. Bagaimana tidak , ia tidak pernah terlihat marah, dimanapun kondisi dan situasi. Apalagi ungkapan keluh kesah tak pernah sekatapun terucap.

Keunikannya lainnya adalah bahwa ia selalu berkata, “Bagus itu!” untuk segala hal. Di matanya segalanya adalah baik, dan melihat dari sisi baiknya. Hidup ini adalah karunia. merupakan kata yang selalu melekat dalam kepribadiannya.

Hujan?
“Bagus itu, banyak berkah, saatnya berdoa”
Saat Kemarau panjang melanda? ” Bagus itu, kita dapat beraktifitas lebih banyak lagi”
Sakit?
“Bagus itu, saatnya untuk beristirahat”

Ada siswa minggat?
” Bagus itu!, bisa membantu orang tuanya bekerja?
Tidak naik kelas?
“Bagus itu, jadi kamu bisa belajar lebih dalam”
Tidak mengerjakan PR?
“Bagus itu, kamu masih tetap berangkat”
Terkena batuk dan Flu?
” Bagus itu ! saatnya libur merokok”

Dipecat?
“Bagus itu, saatnya belajar sungguh-sungguh menjadi pengusaha”
Batal naik jabatan?
” Bagus itu…bisa lebih fokus lagi dalam bekerja”
Uang sertifikasi belum cair
” bagus itu..bisa buat tabungan”

Di sisi lain ia perfeksionis luar biasa. Ia bisa melihat kesalahan sampai titik koma sekalipun. Bedanya dengan guru lain, ia tak pernah marah hanya gara-gara kurang titik koma. Ia akan dengan sangat teliti memberikan masukan.
“Tulisan kamu bagus. Kamu cukup kritis dan analitis. Supaya lebih sempurna, coba pelajari bagaimana kamu bisa menyusun kata-kata agar lebih meyakinkan. Bagus itu, kamu jadi tahu dan bisa belajar lebih baik lagi.”

Pernah juga ia mengetahui jawaban ulangan siswanya yang rendah
” Wah…nilai kamu bagus ini, Bagus itu…kamu tidak salah semua !”
” kamu dapat nilai murni tidak nyontek..Bagus itu ! ”
Saat siswanya kedapatan nyontek berjamaah, kata-kata Bagus itu pun tak lupa ia ucapkan.
” Kalian hebat semua ya…saling berdiskusi. Bagus itu..besok kalian harus bisa berdiskusi seperti sekarang ini saat saya memberikan tugas ‘bagaimana cara agar siswa tidak menyontek saat ujian’..Bagus itu”
Pernah pula seorang siswanya kedapatan merokok di kantin sekolah
” Bagus itu, kamu tidak merokok di kelas, namun akan lebih baik lagi jika kamu tidak merokok, Bagus itu..”

Pada intinya kata-kata “Bagus itu” tak pernah ketinggalan.

Baginya semua muridnya punya perjalanannya masing-masing. Tak ada yang bodoh, tak ada yang kurang ajar. Ada siswanya yang kurang dalam pelajaran matematika, namun ia pandai dalam bahasa Indonesia. Apakah ia disebut anak bodoh? Bagi guru matematika ia bodoh mungkin saja. Tapi bagi guru bahasa Indonesia ia pandai? Jika ia tetap dikatakan anak bodoh, guru gurunya juga harus rela di sebut bodoh ! Guru matematika , ia pintar dalam matematika, tapi apakah dalam IPS ia pandai? Ada guru bahasa Indonesia super pinter, OK! tapi dia itung-itungan mungkin saja ia bodoh dalam matematika, apa rela guru tersebut disebut bodoh????

Pak bagus juga yakin bahwa setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Semua “bagus” dan bisa dibantu untuk “lebih bagus lagi.” Di sinilah perannya sebagai seorang guru, untuk memberdayakan muridnya agar bisa mengeluarkan potensi terbesarnya.

Sebagai guru ia memilih untuk menjadi fasilitator, bukan instruktur. Ia memilih untuk bertanya, dan bukan memerintah. Ia memberdayakan, bukan mengoreksi. Ia membimbing bukan memaksakan kehendak. Ia mensehati bukan mengumpat. Ia sadar bahwa setiap anak memiliki kemampun yang berbeda beda. Ia tidak akan memaksa anak

Hal yang sama dilakukannya juga untuk semua temannya.
Tak ada korban gossip di matanya, karena semua orang “bagus” dan “hebat.”
Ia bisa melihat kebaikan dari semua hal-hal sampai yang terkecil.

Istrinya, anaknya, teman-temannya, semua adalah berlian-berlian dalam hidupnya yang benar-benar disyukurinya.
Tak ada yang buruk, semua bagus.

Pak Bagus tak bisa dibilang ganteng, tapi melihat wajahnya semua orang merasa teduh. Wajah yang senyum terus.

Ia tak bisa dibilang kaya raya, tapi ia selalu sejahtera, selalu bisa berbagi dan menjadi tangan di atas. Penampilan kesehariannya sangat sederhana.

Rejekinya adaaaaa saja. Seakan keberuntungan selalu ada di pihaknya. “Hoki” kalau kata orang.

Ia jarang sakit, dan keluarganya pun jarang sakit. Jadi hemat sekali mereka sebagai keluarga.

Itulah dia Pak Bagus, sebuah karunia bagi semua yang ada di sekitarnya.

Karena kita semua tak bisa mengeluh, tak bisa bergossip, tak bisa marah, karena semua dijawab dengan, “Bagus itu!”

Dan teman-temannya yang sudah siap mengeluh pun jadi berfikir, “Ia juga ya. Keluhanku itu sebenarnya bagus. Kenapa nggak terfikir kemarin-kemarin ya?”

Nah, kalau ada yang mau mengeluh, bayangkan ada Pak Bagus di samping dan langsung saja bilang, “Bagus itu.”

Nanti otak kita akan langsung mencerna dan mencari “bagusnya” di mana. Otak pintar kok. Ia akan menyesuaikan diri pada kata-kata kita.

Kalau ada yang mau gossip dekat kita, langsung jawab, “Dia suka marah-marah? Bagus itu. Jadi kita tahu dimarahin itu nggak enak. Sekarang kamu punya jalan dapat pahala kan?”

Kalau ada yang kesal gara-gara kehilangan barang, “Bagus itu. Siapa tahu kamu kurang sedekah. Bagus cuma kehilangan barang itu. Kalau hidupmu yang diambil, gimana?”

Ada yang nangis baru diputusin,
“Bagus itu. Kamu bisa cari yang lebih bagus lagi.”

Semua bagus…Bagus itu..!

Karena semua kejadian terjadi sebagai akibat atas perbuatan kita sendiri, dan semua mengajarkan kepada kita untuk menanam kebaikan, agar kita memanen kebaikan pula.

Kita saja yang seringkali sulit mencari hikmah di balik semua kejadian.

Semua orang pun baik apa adanya, karena di dalam diri semua orang, bersemayamlah Sang Maha Bagus.

Semua yang hadir dalam kehidupan kita memberi pelajaran, agar kita bisa lebih bagus lagi dalam hidup, lebih dekat lagi dengan sesama kita, dan bersedia mempersembahkan yang paling bagus buat sesama kita.

Semua bagus. Semua indah, jika tidak ada prasangka.
#share jika bermanfaat.

Post navigation